MALEINSPIRE.id – Mencari tahu siapa penemu pertama menu steak daging sapi tampaknya tidak akan pernah menemukan satu jawaban yang pasti.
Jika ditarik jauh ke belakang, bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia prasejarah yang tinggal di sekitar situs Stonehenge ternyata sudah mengonsumsi daging sapi sejak 2.500 tahun sebelum Masehi.
Namun, seni mengolah daging tebal yang dipotong tegak lurus dengan serat otot ini baru dikenal secara masif di berbagai belahan dunia menjelang abad ke-19, seiring berkembangnya teknologi pendingin dan transportasi modern.
Kini, steak daging sapi bukan lagi sekadar komoditas pangan, melainkan identitas budaya kuliner global yang disajikan dengan teknik, saus, dan hidangan pendamping yang berbeda di tiap negara.
Karakteristik Unik Steak Daging Sapi di Berbagai Belahan Negara
Berikut adalah enam negara yang berhasil mengubah olahan daging sapi panggang menjadi destinasi kuliner dengan sejarahnya yang panjang:
Argentina (Tradisi Asado)
Steak daging sapi pertama kali diperkenalkan ke Argentina oleh penjajah Spanyol pada abad ke-16 di padang rumput Pampas.
Para gaucho (koboi Argentina) kemudian menciptakan parrilla, yaitu panggangan logam untuk memasak daging secara perlahan di atas api kecil yang dikenal sebagai asado.
Chef ternama Argentina, Francis Mallmann, sempat mengungkapkan, “Steak adalah bagian dari jati diri kami, sesuatu yang sangat indah dan penting.”
Hingga hari ini, menikmati asado yang berisi potongan iga hingga jeroan telah menjadi ritual sosial pengisi akhir pekan yang penuh kegembiraan.
Jepang (Kemewahan Marbling Wagyu)
Dikenal melalui kelezatan daging Kobe, Wagyu, atau Ōmi, tradisi steak daging sapi di Jepang baru berkembang pasca-abad ke-19 ketika pemerintah era Meiji mendorong konsumsi daging sebagai simbol modernisasi Barat.
Mengenai keunikan hidangan ini, Chef Haruka Katayanagi dari Karyu Restaurant di Tokyo menjelaskan bahwa keindahan marbling, kemurnian lemak, dan ketepatan teknik memasak sangat dihargai di Jepang.
Di restoran, steak umumnya dimasak di atas arang atau pelat besi teppanyaki.
Sementara untuk masakan rumahan, steak cukup dibumbui garam, lada, mentega, atau kecap asin, lalu disajikan bersama nasi putih dan sup miso.
Italia (Warisan Bistecca alla Fiorentina)

Berkembang sejak masa Renaisans di Tuscany, menu bistecca alla Fiorentina adalah lambang kebersamaan yang sakral.
Menggunakan potongan T-bone dari sapi putih jenis Chianina, steak daging sapi ini dipanggang tradisional menggunakan kayu ek berkualitas tinggi.
Dario Cecchini, seorang tukang daging generasi kedelapan di Italia, menegaskan bahwa cara terbaik memasaknya adalah seperti cara para leluhur dulu, tanpa bumbu oles, tanpa garam, tanpa minyak, tanpa apa pun.
Ia menyarankan agar gigitan pertama dinikmati secara murni sebelum ditambahkan garam atau minyak zaitun extra virgin, lengkap dengan pendamping klasik kacang putih cannellini.
Brasil (Sajian Rodízio Churrasco)
Budaya steak di Brasil lahir pada abad ke-18 dan ke-19 dari kebiasaan para peternak yang memanggang daging menggunakan tusuk logam panjang di atas api terbuka (churrasco).
Kini, kuliner tersebut disajikan dengan gaya rodízio di restoran churrascaria, di mana pelayan akan berkeliling membawa tusuk daging dan mengirisnya langsung di meja pelanggan.
Hidangan ini biasa dinikmati bersama nasi, kacang hitam, farofa (tepung singkong sangrai), dan saus vinaigrette segar.
Prancis (Estetika Bistro dan Brasserie)
Masyarakat Prancis awalnya memanfaatkan sapi hanya untuk keperluan bajak sawah atau susu.
Namun, arus urbanisasi abad ke-19 mengubah bistro-bistro di Paris menjadi rumah bagi menu steak populer seperti bavette dan entrecôte.
Salah satu yang paling melegenda adalah steak frites—potongan daging tipis tanpa tulang disajikan bersama kentang goreng renyah, salad hijau, siraman saus béarnaise klasik, serta segelas anggur merah.
Amerika Serikat (Era Porterhouse)
Sejarah perkembangan steak daging sapi di AS melejit pasca-Perang Saudara, saat budaya memanggang di halaman rumah mulai menjadi sarana berkumpul.
Restoran steak di Amerika terkenal dengan porsi masif dan hidangan pendamping mewah seperti bayam krim dan kentang tumbuk.
Potongan paling ikonik di negara ini adalah porterhouse—yang kerap dijuluki raja steak karena menggabungkan bagian filet mignon dan New York strip dalam satu tulang T—di samping pilihan populer lain seperti rib-eye dan tomahawk.