MALEINSPIRE.id – Pernahkah kamu merasa terjepit di antara dua dunia? Di satu sisi, ada gairah dan impian pribadi yang membara di dalam dada. Di sisi lain, ada ekspektasi orangtua atau keluarga yang terasa seperti beban.
Dilema impian pribadi dan orangtua ini bukan sekadar masalah teknis pemilihan pekerjaan, melainkan konflik identitas yang mendalam bagi kita yang sedang beranjak dewasa.
Menghadapi situasi ini membutuhkan kejernihan berpikir dan keberanian untuk bersikap jujur pada diri sendiri.
Impian pribadi atau memenuhi ekspektasi orangtua?
Berikut adalah perspektif untuk membantu kamu menavigasi persimpangan jalan ini.
1. Memahami akar dari ekspektasi
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa saran orangtua biasanya lahir dari rasa takut, bukan kebencian. Mereka menginginkan keamanan finansial dan stabilitas bagi kamu karena mereka peduli.
Namun, sering kali definisi “aman” menurut generasi mereka sudah tidak lagi relevan dengan dinamika dunia kerja modern saat ini.
Memahami bahwa niat mereka baik akan membantu kamu berkomunikasi dengan kepala dingin, bukan emosi yang meledak-ledak.
2. Bahaya hidup dalam mimpi orang lain
Menuruti keinginan orangtua demi menyenangkan mereka mungkin memberikan kedamaian sesaat di meja makan keluarga.
Namun, dalam jangka panjang, menjalani hidup yang tidak sesuai dengan impian pribadi kita dapat memicu kebencian (resentment) dan krisis perempat baya (quarter-life crisis).
Ingatlah bahwa pada akhirnya, kamu-lah yang akan menjalani hari-hari di pekerjaan tersebut, bukan mereka.
3. Membangun “bukti nyata”

Daripada hanya berdebat secara lisan, mulailah menunjukkan hasil kepada mereka.
Jika kamu ingin mengejar impian pribadi di bidang kreatif atau non-konvensional, tunjukkan rencana yang matang atau pencapaian awal kamu.
Orangtua sering kali akan melunak ketika melihat bahwa pilihan kita didukung oleh strategi yang konkret dan hasil yang nyata.
Kemandirian finansial adalah “tiket” paling efektif untuk mendapatkan otonomi penuh atas hidup kamu.
4. Menemukan titik tengah (middle ground)
Terkadang, solusinya bukan tentang “A atau B”, melainkan bagaimana menggabungkan keduanya.
Mungkinkah kamu mengejar impian sebagai proyek sampingan sembari tetap memiliki pekerjaan stabil di awal? Atau adakah aspek dari keinginan orangtua yang sebenarnya bisa kita integrasikan ke dalam jalur yang kamu pilih?
Fleksibilitas sering kali menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan hubungan tanpa mengorbankan jati diri.
Tanggung jawab atas keputusan sendiri
Apapun jalan yang kamu pilih —mengikuti kata hati atau mendengarkan orangtua— pastikan kamu siap mengambil tanggung jawab penuh atas konsekuensinya.
Jangan sampai di masa depan kita menyalahkan orangtua atas kegagalan kita, atau menyalahkan diri sendiri karena tidak cukup berani mencoba.