Industri 5.0 Disebut Sebagai Masa Depan Indonesia, Mengapa?

Industri 5.0

MALEINSPIRE.id – Selama lebih dari satu dekade, diskusi mengenai kemajuan global selalu berkiblat pada Industri 4.0. Padahal, Industri 5.0 disebut jauh lebih baik bagi masa depan.

Digitalisasi, otomatisasi, hingga kecerdasan buatan (AI) dipromosikan sebagai instrumen utama untuk mencapai efisiensi dan produktivitas tanpa batas.

Indonesia pun tidak ketinggalan dengan meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional.

Namun, dinamika global saat ini menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi saja tidak lagi mencukupi.

Krisis iklim, ketimpangan sosial, serta rapuhnya rantai pasok dunia menyadarkan kita bahwa kemajuan tanpa arah yang manusiawi tidak akan menghasilkan kesejahteraan berkelanjutan.

Di sinilah Industri 5.0 hadir, bukan untuk menggantikan teknologi, melainkan sebagai koreksi strategis atas arah pembangunan industri kita.

Mengatasi keterbatasan paradigma Industri 4.0

Industri 5.0

Industri 4.0 selama ini berorientasi sangat kuat pada optimalisasi proses.

Dalam paradigma ini, mesin dan algoritma sering kali menjadi pusat pengambilan keputusan, sementara manusia kerap diposisikan sekadar sebagai operator atau komponen biaya yang perlu ditekan.

Di Indonesia, pendekatan ini mulai memicu tantangan nyata, mulai dari kekhawatiran akan pengangguran struktural pada tenaga kerja berketerampilan menengah, hingga eksploitasi sumber daya alam yang masif demi mengejar target produksi.

Pandemi Covid-19 juga menjadi pengingat bahwa sistem yang terlalu mengejar efisiensi sering kali terbukti rapuh saat menghadapi disrupsi besar.

Industri 5.0: mengembalikan manusia ke pusat inovasi


Berbeda dari pendahulunya, Industri 5.0 mengusung filosofi yang menempatkan manusia kembali sebagai inti dari transformasi.

Paradigma baru ini bertumpu pada tiga pilar utama: Human-centricity (Berorientasi pada Manusia), Sustainability (Keberlanjutan), dan Resilience (Ketahanan).

Industri 5.0 tidak menolak AI atau otomatisasi. Sebaliknya, teknologi canggih dipandang sebagai mitra kolaboratif bagi manusia. Dalam ekosistem ini:

  • Mesin dan AI diandalkan untuk aspek presisi, kecepatan, dan pengolahan data masif.

  • Manusia memegang kendali dalam aspek kreativitas, empati, serta penilaian etis.

Kolaborasi ini menciptakan peluang kerja yang lebih bermakna dan aman.

Di sektor transportasi publik atau perkeretaapian BUMN, misalnya, teknologi tidak hanya digunakan untuk ketepatan jadwal, tetapi juga untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan penumpang serta kesejahteraan para pekerja lapangan.

Keberlanjutan sebagai pondasi utama

Industri 5.0

Salah satu perbedaan fundamental Industri 5.0 adalah penempatan prinsip keberlanjutan sebagai pondasi, bukan sekadar program tambahan (Corporate Social Responsibility).

Sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), industri kini dinilai tidak hanya dari laba yang dihasilkan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pengurangan emisi dan efisiensi energi.

Perusahaan nasional dan BUMN memiliki peran strategis dalam transisi ini.

Pengembangan ekonomi sirkular dan teknologi ramah lingkungan di sektor manufaktur dan energi menjadi kunci agar industri tetap relevan di tengah tuntutan global akan komitmen hijau.

Ketahanan di tengah ketidakpastian

Selain aspek kemanusiaan dan lingkungan, Industri 5.0 sangat menekankan pada ketahanan (resilience).

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim ekstrem, sistem industri harus didesain agar adaptif.

Hal ini mencakup diversifikasi rantai pasok dan peningkatan keterampilan (up-skilling) tenaga kerja. Tujuannya adalah menciptakan industri yang siap menghadapi krisis, bukan sekadar optimal dalam kondisi normal.