MALEINSPIRE.id – Mencegah stunting pada anak masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kualitas manusia di Indonesia.
Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen, yang berarti satu dari lima anak Indonesia berisiko mengalami gagal tumbuh.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan tinggi badan yang di bawah rata-rata.
Lebih jauh lagi, stunting berdampak permanen pada perkembangan otak, imunitas tubuh, hingga produktivitas ekonomi anak di masa depan.
Memahami akar masalah dan cara mencegah stunting secara efektif adalah kunci untuk memutus rantai masalah ini.
Lima fakta penting dalam mencegah stunting

Berikut adalah lima fakta penting yang perlu dipahami serta langkah nyata yang bisa kita ambil dalam mencegah stunting:
1. Krusialnya 1.000 hari pertama kehidupan (HPK)
Periode emas yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun adalah waktu paling menentukan.
Kegagalan pemenuhan gizi kronis pada fase ini berisiko menyebabkan kerusakan otak yang sulit diperbaiki.
Melalui Program PASTI, intervensi difokuskan pada pemenuhan nutrisi bagi ibu hamil dan bayi di bawah dua tahun (baduta) untuk memastikan pertumbuhan fisik dan kognitif berjalan optimal.
2. Gizi seimbang bukan sekadar kenyang
Masalah utama di lapangan sering kali bukan karena ketiadaan makanan, melainkan pola makan yang tidak seimbang.
Anak membutuhkan asupan protein hewani, vitamin, dan mineral yang cukup.
Kehadiran Pos Gizi DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) di tingkat desa menjadi solusi praktis untuk mengedukasi keluarga mengenai pengolahan pangan lokal yang bergizi tinggi namun tetap terjangkau.
3. Sanitasi yang buruk menghambat penyerapan gizi
Banyak yang belum menyadari bahwa lingkungan yang tidak bersih adalah pemicu stunting yang fatal.
Infeksi berulang seperti diare akibat air bersih yang minim dan sanitasi yang buruk membuat nutrisi yang masuk ke tubuh anak terbuang sia-sia.
Pembangunan jamban sehat dan edukasi perilaku hidup bersih (PHBS) di desa-desa dampingan merupakan langkah preventif yang tidak bisa ditawar.
4. Edukasi berkelanjutan libatkan remaja sebagai agen perubahan
Mencegah stunting tidak hanya tugas orangtua, tetapi juga investasi bagi calon orangtua di masa depan. Edukasi mengenai ASI eksklusif dan MPASI berkualitas harus dimulai sejak dini.
Menariknya, Program PASTI melibatkan ribuan remaja sebagai agen perubahan untuk mengampanyekan perubahan perilaku.
Dengan pemahaman yang tepat sejak usia remaja, mereka akan lebih siap membangun keluarga yang sehat di masa depan.
5. Kolaborasi lintas sektor (Pentahelix)
Stunting adalah masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Program PASTI sendiri merupakan wujud nyata kolaborasi antara BKKBN, Tanoto Foundation, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, dan PT BCA Tbk, yang diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI).
Hingga akhir 2025, program ini telah berhasil memperkuat sistem di ratusan desa di Kalimantan Barat dan Jawa Timur, membuktikan bahwa kerja sama lintas sektor mampu memberikan dampak yang terukur.
Bergerak bersama demi generasi emas
Eben Ezer Sembiring, Program Director WVI, menegaskan bahwa anak-anak adalah masa depan bangsa.
“Penting bagi setiap keluarga, desa, dan pemangku kepentingan untuk berjalan bersama demi memastikan anak mendapatkan haknya atas makanan bergizi dan layak,” ujarnya.
Melalui pendampingan yang konsisten dan sistematis, kita bisa memutus akar persoalan stunting dan memastikan setiap anak Indonesia mampu tumbuh sehat untuk mencapai potensi terbaik mereka.