MALEINSPIRE.id – Tragedi kehilangan orang yang dicintai adalah ujian terberat dalam hidup, terlebih jika pelakunya ada di hadapan kita. Hal ini dirasakan betul oleh Danny Abdullah.
Sebagai seorang ayah, Danny Abdullah memilih jalan yang hampir mustahil bagi kebanyakan orang: memaafkan pembunuh tiga anaknya.
Pertemuan emosional antara seorang ayah yang kehilangan dan pelaku yang merenggut ketiga anaknya di dalam penjara dengan keamanan maksimum menjadi bukti nyata bahwa pengampunan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan luka paling dalam sekalipun.
Kisah Danny Abdullah, tragedi yang mengguncang Australia
Lima tahun yang lalu, tepatnya pada 1 Februari 2020, sebuah kecelakaan tragis di Oatlands, Sydney, Australia merenggut nyawa empat anak.
Tiga di antaranya adalah putra dan putri Danny Abdullah: Antony, Angelina, dan Sienna, serta sepupu mereka, Veronique.
Samuel Davidson, yang saat itu mengemudi mobil di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan, kehilangan kendali atas kendaraannya dan menabrak anak-anak yang sedang berjalan kaki untuk membeli es krim.
Kejadian ini menyisakan duka mendalam bagi publik. Samuel, yang sebelumnya tidak memiliki catatan kriminal, seketika menjadi sosok yang paling dibenci di Australia. Ia pun diamankan pihak kepolisian setempat dan mendekam di balik sel.
Namun, di tengah kemarahan massa, sebuah pesan luar biasa muncul dari keluarga korban. Istri Danny, Leila, secara terbuka menyatakan pengampunannya hanya beberapa hari setelah pemakaman anak-anak mereka.
Pertemuan Danny dan Samuel di balik jeruji besi

Melalui program Restorative Justice, Danny Abdullah mendapatkan kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan Samuel Davidson di dalam penjara.
Pertemuan ini bukan untuk melampiaskan amarah, melainkan sebagai bagian dari proses penyembuhan spiritual bagi kedua belah pihak.
Dalam pertemuan yang sangat intens tersebut, Samuel menyatakan penyesalannya yang mendalam. Ia mengaku bahwa pengampunan dari keluarga Abdullah adalah satu-satunya hal yang memberinya harapan untuk terus hidup dan memperbaiki diri.
Danny, dengan ketenangan luar biasa, merangkul Samuel dan menegaskan bahwa ia tidak lagi menyimpan kebencian.
“Saya sudah memaafkanmu sepenuhnya,” ujar Danny kepada pria yang telah merusak dunianya tersebut.
Transformasi melalui kegiatan spiritual
Bagi Danny Abdullah, pengampunan bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara agar ia tidak “dimakan hidup-hidup” oleh kepahitan dan keinginan untuk membalas dendam.
Ia memilih untuk berfokus pada masa depan anak-anaknya yang masih hidup dan menjaga kenangan indah tentang mereka yang telah tiada.
Menariknya, Samuel Davidson juga mengalami transformasi spiritual yang signifikan selama di penjara.
Ia kini aktif dalam kegiatan keagamaan dan menjadikan Danny sebagai sosok inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Danny bahkan rutin berkomunikasi dengan Samuel setiap minggu, memantau perkembangannya, dan memberikan dukungan moral kepada orang tua Samuel yang juga turut menderita akibat perbuatan putra mereka.
Pesan untuk generasi muda
Melalui kisah ini, baik Danny maupun Samuel berupaya menyampaikan pesan penting bagi masyarakat.
Samuel mengimbau semua orang untuk mematuhi aturan lalu lintas dan tidak pernah mengemudi di bawah pengaruh zat apa pun.
Sementara itu, Danny menekankan pentingnya memiliki kebiasaan hidup yang sehat dan menjauhi gaya hidup yang merusak.
Kisah Danny Abdullah mengingatkan kita bahwa meskipun keadilan hukum tetap berjalan —dengan Samuel yang harus menjalani sisa masa tahanannya— keadilan bagi hati nurani hanya bisa dicapai melalui pengampunan.
Ini adalah cerita tentang bagaimana kasih bisa menang di atas tragedi, dan bagaimana sebuah akhir yang memilukan bisa menjadi awal dari perjalanan spiritual yang penuh makna.