Sleep Divorce, Rahasia Pasangan Modern Jaga Keharmonisan Lewat Tidur Terpisah

sleep divorce

MALEINSPIRE.id – Selama ini, sleep divorce atau tidur terpisah telah lama dianggap sebagai tanda bahwa hubungan suami istri tidak baik-baik saja.

Tidur di ranjang yang sama senantiasa menjadi simbol keintiman dalam hubungan romantis. Namun, seiring berkembangnya kesadaran akan kesehatan mental dan kualitas istirahat, banyak pasangan mulai mencari otonomi pribadi di malam hari melalui sleep divorce.

Sleep divorce bukanlah pertanda keretakan hubungan. Sebaliknya, ini adalah keputusan sadar pasangan yang tetap saling mencintai untuk tidur di tempat tidur atau kamar yang terpisah demi mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.

Kisah seorang pria menceritakan pengalaman sleep divorce

Diskusi mengenai topik ini sempat memuncak di platform Reddit, ketika seorang pengguna pria berbagi pengalamannya menjalani sleep divorce selama lima tahun.

Ia memutuskan pindah ke kamar tamu karena perbedaan kebiasaan tidur yang drastis dengan istrinya.

Sang suami gemar membaca dengan lampu menyala dan membutuhkan suara white noise yang kencang, sementara sang istri membutuhkan keheningan total.

Sejak tidur terpisah, keduanya mengaku bangun dalam kondisi yang lebih segar dan suasana hati yang jauh lebih baik.

Kisah ini memicu gelombang pengakuan serupa dari netizen lain.

Banyak pasangan merasa “menemukan kembali” energi mereka setelah tidak lagi terganggu oleh suara dengkuran, gerakan tubuh pasangan yang gelisah, atau perbedaan suhu ruangan yang sering memicu perdebatan kecil di pagi hari.

Data dan tren: mengapa milenial memilih tidur terpisah?

sleep divorce

Menurut laporan National Post pada Desember 2024, generasi milenial menjadi penggerak utama tren sleep divorce. Mereka memandang metode ini sebagai langkah pragmatis untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Bahkan, industri pariwisata mulai menangkap sinyal ini.

Laporan Hilton 2025 Trends menyebutkan bahwa semakin banyak pasangan yang memesan kamar dengan kasur terpisah saat berlibur demi memprioritaskan istirahat yang berkualitas tanpa mengorbankan waktu kebersamaan di siang hari.

Perspektif sains: dampaknya terhadap kualitas tidur

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Chronobiology International (2016) menjelaskan bahwa meskipun tidur bersama memberikan rasa aman secara evolusioner, hal tersebut tidak selalu mendukung fungsi fungsional pasangan.

Gangguan nokturnal seperti dengkuran, sindrom kaki gelisah (restless legs), hingga apnea tidur dapat menjadi masalah serius.

Sleep Research Society bahkan mencatat sebuah fakta medis yang signifikan: hingga 30% kualitas tidur seseorang dipengaruhi oleh perilaku tidur pasangannya.

Keputusan sehat untuk hubungan yang kuat

Kendati demikian, sleep divorce membuktikan bahwa keintiman tidak selalu harus diukur dari jam-jam saat kita tidak sadarkan diri (tidur).

Dengan memastikan kedua belah pihak mendapatkan istirahat yang cukup, pasangan justru dapat meminimalkan konflik yang dipicu oleh kelelahan dan iritabilitas.

Tidur terpisah, jika dikomunikasikan dengan baik, dapat menjadi langkah yang menyehatkan bagi hubungan jangka panjang.

Fokusnya tetap sama: menjaga cinta tetap hangat, sembari memastikan tubuh mendapatkan istirahat yang layak.