MALEINSPIRE.id – Ungkapan bahwa “popularitas dapat membunuhmu” kini mendapat pembuktian ilmiah. Studi terbaru yang dimuat dalam Journal of Epidemiology & Community Health mengungkapkan ketenaran bisa memangkas usia harapan hidup seorang musisi.
Risiko mortalitas akibat kepopuleran menjadi musisi disetarakan dengan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok.
Studi ini menganalisis data perbandingan antara penyanyi terkenal dan artis yang kurang dikenal.
Ace Frehley, Gitaris Legendaris KISS, Meninggal Dunia di Usia 74 Tahun
Hasil studi menunjukkan popularitas dapat mempersingkat usia harapan hidup rata-rata hingga 4,6 tahun.
Meskipun tur, pertunjukan, dan gaya hidup rock n roll telah lama diasosiasikan dengan penurunan harapan hidup, analisis ini adalah yang pertama menunjukkan hubungan langsung antara ketenaran dan angka kematian.
Bagaimana popularitas memengaruhi harapan hidup musisi

Para peneliti dari University Witten Herdecke di Witten, Jerman, meneliti data 648 penyanyi.
Setengah dari sampel diklasifikasikan sebagai terkenal (dipilih dari daftar Top 2.000 Artists of All Time Acclaimed Music, termasuk The Beatles, Bob Dylan, dan David Bowie), dan setengahnya lagi kurang terkenal.
Dengan mencocokkan setiap penyanyi terkenal dengan penyanyi kurang terkenal berdasarkan karakteristik seperti jenis kelamin, kebangsaan, dan genre musik, akademisi menemukan disparitas yang jelas:
-
Penyanyi terkenal hidup hingga usia rata-rata 75 tahun.
-
Penyanyi kurang terkenal hidup hingga usia rata-rata 79 tahun.
“Peningkatan risiko mortalitas yang terkait dengan ketenaran sebanding dengan risiko kesehatan terkenal lainnya seperti merokok,” ujar para penulis studi.
Brent Hinds, Gitaris Mastodon Wafat di Usia 51 Tahun
Faktor pemicu dan dukungan emosional
Dengan mengisolasi ketenaran sebagai faktor risiko, studi ini mengindikasikan bahwa mencapai popularitas dapat menjadi titik balik yang memicu masalah kesehatan yang lebih besar.
Para peneliti menduga faktor penyebab rendahnya usia harapan hidup musisi terkenal meliputi: kehilangan privasi, sorotan publik yang intens, dan tekanan berkelanjutan untuk tampil.
Selain itu, ditemukan bahwa artis solo memiliki risiko mortalitas lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyanyi yang memiliki dukungan emosional dan praktis dari anggota band.
Meskipun hubungan kausalitasnya belum dapat dibuktikan secara pasti, para peneliti menegaskan bahwa ketenaran merupakan faktor penting yang memengaruhi umur panjang dan menggarisbawahi perlunya intervensi khusus untuk mengurangi efek merugikan ketenaran.
Konteks budaya dan studi terdahulu

Isu ini telah lama menjadi fokus studi, terutama terkait risiko penyalahgunaan narkoba dan alkohol.
Studi berbasis di AS pada tahun 2007 mencatat bahwa bintang pop yang meraih ketenaran pada usia 20 hingga 25 tahun memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar menghadapi risiko mortalitas dibanding populasi umum.
Fenomena 27 Club, Misteri di Balik Kematian Musisi Dunia
Dalam budaya populer, fenomena ini diabadikan melalui istilah ’27 Club’, yang merujuk pada musisi rock ikonik seperti Amy Winehouse, Jimi Hendrix, dan Kurt Cobain yang meninggal pada usia 27 tahun.
Kendati demikian, studi tahun 2011 di British Medical Journal menyimpulkan bahwa tidak ada peningkatan risiko kematian spesifik pada usia 27 tahun bagi musisi terkenal.
Peningkatan risiko justru ditemukan secara umum sepanjang usia 20-an dan 30-an.
Fenomena kepergian artis muda populer, seperti rapper Mac Miller (26), DJ Avicii (28), dan Liam Payne (31), dalam beberapa tahun terakhir semakin memperkuat relevansi penelitian ini dalam memahami harga kesehatan mental dan fisik dari ketenaran global.